4 Anak Kresnadi

Ini lah kami, berempat sejak dulu hingga kini. Foto diambil sekitar tahun 1995, sepeninggalan kedua orang tua kami, papa yang meninggal tahun 1992 disusul mama tahun 1994.

Life must go on, dan disadari atau tidak, kehidupan itu berjalan terus, mengalir saja bagai anak air sungai. Kadang menempuh jalan yang berbatu, kadang mulus bagai jalan tol.

Walau kami berbeda agama dan keyakinan, persaudaraan kami berempat tidak pernah renggang, bahkan setelah kami semua berkeluarga dan hidup dengan keluarga masing-masing.

I love you forever my brother and sisters, Wiwiek-Nunu+Chita.

Marhaban Yaa Ramadhan 1440H

Ramadhan sebentar lagi tiba, in syaa Allah.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, keluarga besar Mintardjo Jakarta dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan selalu kumpul-kumpul untuk bersilaturahim dan bermaaf-maafan.

Kali ini acara diadakan di Alea Town House, di area fasum tempat tinggal adikku nomor dua Ibnu, yang juga bertepatan dengan ulang tahunnya dan ulang tahun adikku yang pertama, Monica.

Acaranya seru banget, makanannya lengkap, kopi tersedia tinggal minta, goodie bag berjibun dan gamesnya juga sangat seru, walaupun tim gw dapat juara 1 dari belakang 😄

Yang penting adalah keakraban dan bersilaturahim antar keluarga besar Mintardjo, yang alhamdulillaah juga dihadiri om dan tante dari Semarang, joss gandoz wis lah ♥️♥️♥️

Selamat menyambut datangnya bulan suci, Marhaban yaa Ramadhan 1440H, semoga kita semua dapat menunaikan segala kewajiban dan sunnah-sunnah di bulan suci untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa, aamiin.

Semua foto dijepret dan milik Ibnu.

Hari Terakhir di Ora Beach

Hari ketiga di Ora Beach Resort adalah hari terakhir bermain di perairan pulau Seram ini. Rencananya kami akan ke Pulau Pasir, sebuah pulau seperti di beberapa tempat di Indonesia, yang timbul bila air laut surut. Pulau pasir seperti ini pernah kami kunjungi di Derawan, Belitong, Raja Ampat dan Labuan Bajo.

Pulau pasir seperti ini tidak berpenghuni juga tidak ada pohonnya. Saat kami datang ternyata air laut belum begitu surut, sehingga pulaunya hanya sedikit yang timbul.

Walau begitu, landscapenya sangat asyik buat dipakai foto keluarga atau foto khas orang kota yang datang ke laut: loncat-loncatan 😄

Selepas dari pulau Pasir, kami menuju Tebing Batu, yang dalam bahasa setempat disebut Hatu Pia. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Ora Beach, namun pemandanganya luar biasa, macam di film-film gitu lah 😍

Kapal disandarkan pada dermaga dan terlihat ikan-ikan di atas pasir putih banyak berkeliaran menunggu diberi makan.

Tempatnya asyik banget, pas untuk foto foto dan menikmati angin laut yang menerpa, bikin ngantuk juga kalau gak segera turun ke laut hehehe 😊

Di tepi tebing batu ini air laut begitu jernih, dengan kedalaman yang cuma sepinggang orang dewasa, membuat yang gak bisa berenang jadi bebas bermain dengan ikan.

Hamparan tebing yang tinggi menjulang di tepian dan ikan-ikan yang berenang di permukaan, membuat kita mudah mengambil foto dua sisi alam itu sekaligus, keren kan?

Selepas dari Hatu Pia, kami menuju Mata Air Belanda, untuk snorkeling dan melihat mata air yang sangat dingin namun berada di dalam lingkungan air laut, ma syaa Allah. Fenomena alam ini baru kami temukan di sini, walau gak menutup kemungkinan masih banyak tempat sejenis di bumi khatulistiwa ini.

Sebelum pulang ke Ora Beach Resort, kami minum kopi dan makan Indomie rebus sembari melihat Utami menikmati bermain ayunan di pinggir pantai, wuuushh..

Sore pun datang maka selesai lah trip kami hari ini, dan kami pun kembali ke resor.

Lagi dan lagi, sesampainya di Ora Beach, kami mencari tempat berfoto di resor yang Instagramable ini. Dipuas-puasin deh sebelum besok subuh harus balik lagi ke dunia nyata..

Foto di rumah pohon:

Foto di depan resor:

Juga di tepi pantainya:


Alhamdulillaah, terima kasih yaa Rabb, untuk keindahan bumiMu dan kebersamaan kami yang menyenangkan di Maluku ini ♥️

Hari Kedua di Ora

Hari kedua di Ora Beach, agendanya menuju sekitaran Pulau Tujuh untuk snorkeling. Pagi-pagi kami bersiap di dermaga setelah sarapan di restoran resort. Cuaca yang cerah membuat ingin bikin foto bareng-bareng di dermaga sebelum berangkat, jepret!

Perjalanan menuju Pulau Tujuh kurang lebih selama satu jam, menggunakan boat dari ORA Beach resort.

Begitu tiba di perairan dangkal Pulau Tujuh, sudah terlihat ikan-ikan mengajakku bermain. Gak pakai lama, langsung pada nyebur itu bapak ibu dan anak-anak, snorkeling di perairan yang sangat jernih dan kaya dengan habitat laut yang luar biasa indahnya.

Setelah puas bermain dengan ikan, kami merapat ke pulau Itua, di mana crew kapal sangat gesit untuk mencari kelapa muda dan memotong, mengupas dan membelahnya bagi kami, uenak tenan!

Selepas itu, kami pindah tempat ke perairan pulau Sau untuk snorkeling dan makan siang di sana.

Setelah cukup lama di Pulau Sau, kami pun kembali ke resor untuk beristirahat. Di bawah restoran, school fish banyak berkumpul, membuat Utami gemas untuk memberi mereka makanan, dan mereka pun berebutan melahap remah remah roti yang dilemparkan.

Melihat begitu banyak ikan di bawah, karena belum berganti pakaian sejak pulang dari Pulau Tujuh, aku pun menyelam di bawah restoran resor sekedar untuk melihat dari dekat gerombolan ikan yang begitu banyaknya, ma syaa Allah.

Sorenya setelah mandi, kami pun berfoto-foto di sekitaran resor walaupun sunset yang ditunggu tidak juga hadir. But as you can see, we pictured ourselves nicely, agree?

Ora resort memang keren!

ORA Beach, Here We Come!

Impian itu menjadi nyata, saat kami putuskan Ora Beach menjadi destinasi ulang tahun pernikahan kami ke 22 tahun ini.

Perjalanan dimulai pukul 22 dari rumah, untuk bertemu dengan 2 keluarga peserta trip kali ini, kang Iwan Setiawan dan mbak Yanti yang pernah ngetrip bareng ke Raja Ampat dan Labuan Bajo, plus mas Bambang dan keluarganya, yang terlanjur kepengen ikutan ngetrip setelah bertemu di Labuan Bajo tahun lalu.

Kami tiba di Ambon pukul 05.55 WIT, dijemput oleh driver dari Maluku Resort and Spa dan sarapan pagi di sana yang ternyata adalah sister company dari ORA Beach Resort.

Dua destinasi di kota Ambon, yaitu pantai Natsepa yang terkenal dengan rujaknya, serta Jembatan Merah Putih, menjadi tempat tujuan kami dan menyempatkan untuk berfoto di sana.

Pukul 11 WIT, kapal cepat sudah menunggu di Pelabuhan Tulehu untuk menuju pelabuhan Amahai di Pulau Seram. Lama perjalanan sekitar 2 jam, dan dijemput oleh tim dari Ora Beach untuk makan siang di kota Masohi.

2 jam perjalanan lagi harus ditempuh naik mobil menuju Saleman di Utara pulau Seram ini. Alhamdulillah jalanannya bagus dan sepi, waktu yang pas untuk memejamkan mata sejenak.

Sebelum tiba di Pelabuhan Transit Saleman, kami diajak berfoto dulu di atas bukit dengan latar belakang bukit pantai Ora yang sore itu terlihat mistis sekali dengan kabut di puncaknya.

Perjalanan sejak semalam ini berakhir setelah ketinting atau boat yang mengantar kami tiba di dermaga Ora Beach Resort, 10 menit dari pelabuhan Saleman, alhamdulillah. Total perjalanan, serasa 18 jam karena berangkat pukul 22 WIB, tiba pukul 17 WIT, luar biasa..

Capek? Iya sedikit, namun itu semua terbayar setelah melihat resor yang luar biasa ini, so heaven!

Lanjut lagi nanti yaaa..

Parkir Inap Soewarna

Satu cara untuk mempermudah perjalanan adalah memanfaatkan parkir inap di Bandara. Terutama bagi kami penduduk Bekasi yang berjarak 100 km pulang pergi ke Soekarno Hatta airport, bisa 600 ribu lebih untuk naik taksi.

Oleh sebab itu saat melihat iklan murahnya tarif inap di Soewarna Bandara Soetta, hanya Rp 4.000 per jam, dihitung maksimal 15 jam alias Rp 60.000 sehari semalam, sangat signifikan bedanya dibanding naik taksi pulang pergi, atau menginap di parkir Bandara 1 dan 2.

Ya, untuk 4 hari menginapkan mobil yang kami tinggal pergi ke Maluku ini, cukup membayar Rp 240.000, sangat murah bukan?

Namun seperti driver yang mengantarkan kami ke terminal keberangkatan bilang, armada penjemputan masih sedikit, jadi waktu tunggu agak lama dibanding parkir inap lainnya.

Tapi kenyataannya, nggak terlalu lama tuh, gak sampai 30 menit kami menunggu di terminal 3, mobil yang kami telpon telah datang.Besok-besok nginap lagi di sini aaah.. 🤗

One Day in KPPS Life

Ini kali kedua gw terlibat dalam Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara/KPPS, setelah bulan Juni 2018 lalu ikut dalam kegiatan Pilkada Bekasi.

Dibanding saat Pilkada, tentu Pilpres dan Pileg kali ini jauh lebih berat, apalagi untuk putriku yang baru pertama kali ikut memilih.

Selain momen yang sangat penting dan menghebohkan seperti Pilpres, ratusan calon legislatif dan DPD yang asing namanya juga menimbulkan permasalahan tersendiri. Terbukti dari waktu yang dibutuhkan para pemilih, bisa 5 kali lipat lebih lama dibanding saat Pilkada dulu.

Belum lagi permasalahan pemilih yang tidak terdaftar di DPT/Daftar Pemilih Tetap juga pemilih yang berpindah dari daerah pemilihannya yang membawa form A5, mau tidak mau para anggota KPPS mesti rela bekerja lebih keras dan begadang sampai keesokan harinya.

Tak heran bila banyak sekali anggota KPPS yang sakit hingga meninggal dunia, yang hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 105 orang, innalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun.

Foto diambil pukul 2 pagi dengan latar belakang para saksi yang masih bertahan

Masih beruntung, walau sama-sama bekerja hingga keesokan harinya, tidak ada satu anggota KPPS di 3 TPS di RW kami yang jatuh sakit, tsumma alhamdulillaah.

Usul saja, untuk 5 tahun ke depan, sebaiknya Pemilihan Presiden dipisah waktunya dengan Pemilihan Anggota Legislatif, agar tidak lagi jatuh korban dan memakan banyak waktu seperti ini.

Video ini gw dedikasikan untuk semua rekan-rekan KPPS di RW013 Jatikramat Bekasi dan di seluruh Nusantara yang sudah bekerja tak mengenal lelah demi lancarnya Pilpres 2019.

Hidup Indonesia! 🇮🇩