Kopdar TeRuCI Jadoel di GC Farm

Baris yang rapi ya: 129 – 163 – 281 – 158 – 318 – 142 – 048 – 059 – 197 – 423

Siang ini mendapat undangan makan siang di Saung GC Farm milik om Ahmad Khoiruddin 0163 (Gus Choi), member TeRuCI Chapter Tangerang. Berdua berangkat bersama Miko 0059, kami sampai di GC Farm dalam 1 jam lebih dikit perjalanan dari Jatiwarna, Bekasi.

Saung yang bersih dan ciamik

Saungnya asyik, berada di pinggir sawah, membuat betah berlama-lama di sini. Menu makanannya pun cukup bervariasi dan tentunya nikmat rasanya. Hanya saja, karena gak tau bisa order via WA agar makanan sudah disiapkan sebelum kita datang, jadi agak lamaan deh hehehe..

Ini sebenarnya kunjungan gw kedua di GC Farm, setelah gowes barengan TERBAIK/TeRuCI Ban Cilik dalam perjalanan dari BSD ke Tebing Koja di awal tahun 2020 lalu. Namun saat itu GC Farm belum membuka restorannya kalau gak salah, dan Gus Choi juga gak berada di tempat, jadi cuma foto di depannya saja.

Gowes TERBAIK ke Kandang Godzilla

Sukses terus om Choi untuk GC Farm, thanks banget udah reunian lagi dengan para Jadulers TeRuCI, kalau dilihat dari nomor IDnya ini: 129 – 163 – 281 – 158 – 318 – 142 – 048 – 059 – 197 – 423 ๐Ÿ˜†

Barakallaahu fiik!

Maksi Ikan Goreng Lik Tuti

Siang ini kami mengajak mbah Kakung dan mbah Uti dahar di luar rumah. Utami menyarankan ke Rumah Makan Lik Tuti di Kaliori, di pinggir sungai Serayu.

Karena sudah pernah makan di sana, kami pun mantap menuju ke Kaliori walaupun Maryam tetap gak mau ikut, lebih memilih bermain bareng Dinda, sepupunya di rumah mbah.

Menunya cukup sederhana: nasi panas, ikan sungai yang digoreng kering, sambel dan lalapan. Sudah, main course-nya begitu doang, tapi saat dihidangkan di meja, mulut gak berhenti mengunyah sampai perut terasa penuh.

Begitu lah, so simple tapi so treasure, gw yang gak suka makan pakai sambel aja bisa habis sambelnya gegara ikan Boso atau lelembutan yang lain ya cocoknya dipadukan dengan sambel dan nasi putih yang mengepul, hmmm..

Sudah lah kenyang, mari kita pulang. Bremmmm

Sepedahan di Subang

Sepedahan bareng dengan panorama pedesaan yang indah

Tiba lah pagi yang ditunggu-tunggu. Setelah kemarin sore Kampung Sukadaya Desa Sukasari, Dawuan Subang ini diguyur hujan hingga waktu Isya yang menggagalkan rencana gowes perdana di sini, pagi ini alhamdulillah cuaca sangat mendukung.

Kurang lebih 18 goweser yang turut serta, dipandu oleh pak Ahmad Solihin, –pemilik Saung Mang Ihin yang melayani para jamaah Masjid Baiturrahim AL Jatibening– untuk mengayuh sepeda di kampung halamannya, benar-benar menikmati suasana pagi yang sejuk dan cantik.

Saung Mang Ihin, tempat start & finish

Namanya gowes hepi-hepi, setiap menemukan lokasi yang ciamik, kami pun kompak untuk berhenti guna berfoto-foto. Gak heran di Strava perjalanan pagi itu, walau berlangsung selama 2 jam 36 menit namun waktu mengayuhnya tercatat 1 jam 18 menit untuk mencapai jarak tempuh yang hanya 17.48 km saja ๐Ÿ˜†

Jalan, Sawah dan Gunung. Keren yak!
Hutan Karet
Gak bisa menolak untuk foto di tengah sawah kayak gini

Beberapa spot yang menarik yang dijadikan tempat berfoto ria antara lain di depan rumah mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi atau yang dikenal dengan Lembur Pakuan, di tengah sawah yang dihimpit oleh pegunungan sebagai latar depan dan belakangnya, di hutan Karet yang cukup lebat serta beberapa spot menarik lainnya.

Lembur Pakuan

Udah deh, menyusuri jalanan yang asri di perkampungan itu benar-benar menaikkan imun, yakin! โœŠ๐ŸผโœŠ๐ŸผโœŠ๐Ÿผ

Dan saat mentari naik menjelang siang kami pun kembali ke Saung Mang Ihin, yang sudah siap dengan sajian makan siang sebagai menutup gelaran perjalanan 2 hari kami ke Subang ini.

Saung Mang Ihin yang fenomenal

Terima kasih banyak untuk pak Solihin dan keluarga yang sudah melayani kami sepenuh hati.

Alhamdulillah bini’matihi tatimmush sholihaat, segala puji milik Allah yang dengan nikmat-Nya hal-hal yang baik menjadi sempurna.. ๐Ÿคฒ๐Ÿผ

A Good Family Time

Sesuatu yang jarang, pergi berlima untuk makan siang ๐Ÿ˜™

Ahad siang, Mama pengen ngajak makan di luar rumah. Berbagai tempat kuliner ditawarkan, dari Sushi langganan di Kota Wisata, sampai Seafood.

Sayang, gak ada yang setuju. Malahan saat Baba usul makan steak, anakยฒ pada mengiyakan.

Tinggal deh si Mama manyun karena lebih pengen makan Sushi, yang terakhir dicicipi tanggal 9 Oktober lalu, ya skip skip dong ya.

Pilihan jatuh ke Fly The Wind di Kota Wisata, secara kami juga pernah makan steak di sana, yang lumayan lah enaknya, juga cozy lokasinya.

Ngopi cantik di Kopi Nako

Setelah kenyang, anak yg tertua pengen ngopi. Daripada tetap di Fly The Wind, Mama mengusulkan ngopi di Kopi Nako Kota Wisata. Dan jadi lah kami sore ini ngopi cantik di sana, full team, alhamdulillah.

Terima kasih ya Allah untuk waktu yang sangat berharga ini bagi kami sekeluarga, aamiin yaa Rabbal aalamiin ๐Ÿคฒ

Kulineran Dekat Rumah

Ngopi cantik @San9a

Tetiba pagi tadi mama Utami ngajakin hang out ke Kota Wisata, buat makan siang di Umaku Sushi, yang sangat digemari anakยฒ.

Dalam perjalanan ke KotWis, ternyata butuh waktu 51 menit, kata Google Maps. Duh, Sabtu kayak gini emang ramai jalan menuju ke sana. Jadi lah gw usul cari makan di Taman Galaxy aja dekat rumah.

Then, kami memutar mobil, balik menuju Warung Steak Double U by Chef Widhi di dekat perumahan Taman Galaxy. Anakยฒ pun senang, karena steak ini sangat lezat dan empuk.

Steaknya enaaaak

Selepas dari sana, pengen ngopi dong. Mana lagi selain kedai kopi langganan San9a yang dulu menjadi tempat pertemuan ngopi kami dengan ustadz Felix Siauw.

Our three Jewels

Mager lah kami di sana dengan menikmati kopi masingยฒ sebelum mengakhiri kulineran Sabtu Siang ini dengan sholat Dzuhur di masjid Adz Dzikra dan berbelanja sedikit di Grand Galaxy Park.

Thanks all!

Lunch at Warung Pecak Duren

Sehabis gowes bareng gank Pare di BSD pagi ini, kami diajak mbak Nana ke rumah makan yang lagi ngehitz katanya, di Kranggan, Tangsel.

Namanya Warung Pecak Duren, yang siang ini ramai sekali dikunjungi orang, padahal jalanan menuju tempat ini cukup sempit, hanya cukup 1 mobil ๐Ÿ˜ฑ

Untungnya kok sesampainya di sini, langsung disuguhi ikan goreng Gurame dan kawanยฒnya, membuat rasa gundah karena perjalanan yang gak sampai-sampai itu, terbayar lunas, alhamdulillah ๐Ÿ˜

Gowes 2 Hari di Purwokerto

Akhir pekan lalu kami mudik kembali ke Purwokerto, mengunjungi Bapak mertua yang masih sakit dan meminta ketiga putrinya yang tinggal di Bekasi untuk datang menjenguk. Berangkatlah bareng-bareng kami bersama 2 adik Utami dalam 1 mobil.

Esok paginya, saat bersepeda, sudah tentu. Gw ajak Utami untuk mengulangi trayek ke arah Baturraden, sembari menuju tempat ngopi, Kopi Keprok namanya. Ternyata Bowo dan keluarganya juga hendak bersepeda pagi itu, jadi sebelum berangkat kami berfoto dulu, klik!

Wefie bareng keluarga Wahyu Wibowo

Perjalanan pun kami mulai ke arah Underpass Jenderal Sudirman lalu ke arah Karangsalam di Utara. Dari situ menyusuri jalan menuju Pabuaran dan tiba di Kopi Keprok. Sebuah tempat kuliner yang sangat nyaman, terbuka dan pagi itu sudah banyak goweser yang ngopi dan sarapan di sana.

Ngopi di Kopi Keprok

Restoran dengan konsep ruang terbuka di tepi sawah seperti ini, memang sedang marak dan menarik untuk dikunjungi, juga menjelma menjadi spot foto yang menarik:

Open space yang hijau dan menyenangkan
Ayunan, arena kegemaran Utami untuk difoto

Selain tempatnya yang nyaman, ternyata kulinernya juga nikmat. Pengunjung dipersilakan mengambil makanan sendiri dengan memakai sarung tangan plastik yang sudah disiapkan, bayarnya belakangan.

Tercatat perjalanan pagi itu sejauh 33.85 km dengan waktu tempuh 2 jam 8 menit. Gowes pagi itu pun diakhiri dengan perut yang kenyang hehehe..

Keesokan harinya, gw gowes sendirian. Tujuannya, mengulangi trip 10 tahunan yang lalu, naik ke Baturraden. Bedanya, dulu pakai MTB sekarang naik sepeda lipat.

Dan, itu menjadi masalah sendiri. Walaupun sproket sepeda Utami cukup memadai, 10 speed dengan 11-36T tapi dengan single crank yang cukup besar, membuat payah juga. Tak kurang 3x berhenti sejenak untuk menarik nafas sebelum melanjutkan perjalanan.

Alhamdulillah, walau terasa berat namun tidak sekali pun TTB/Tuntun Bike untuk mencapai ketinggian 610+ meteran haha, masih kuat ternyata โœŠ๐Ÿผ

Melepas penat di depan pintu masuk Baturraden

Nikmatnya gowes ke Baturraden adalah menikmati perjalanan pulang ke Purwokerto. Menuruni jalanan yang curam, bisa meluncur lebih dari 61 km per jam (rekam jejak di piranti Xoss G+), namun karena takut terjadi apa-apa maka kita main aman aja, rem yang dibanyakin hehehe.

Top speed di Xoss G+

Tercatat di Strava, gowes pagi itu 32 km dengan waktu tempuh 2 jam 7 menit. Not bad lah ya, tapi gak janji mau ngulangin lagi… capek booo’ ๐Ÿ˜†

Maryam Birthday Brunch

Anak Baba Mama sudah 10 tahun

Pagi tadi, kami mengundang adik-adik dari pihak gw dan Utami, untuk sarapan pagi di Bukit Air Resto, Ciomas, Bogor. Namun karena masih dalam masa pandemi Covid, Rini dan Sofi, adik Utami, memilih tidak hadir. Alhamdulillah Wiwiek dan Ibnu bisa hadir walaupun masing-masing tidak full team.

Ini kali kedua kami bersantap makanan di sini. Sebelumnya, pada akhir bulan Juli 2014 saat mengajak Bapak dan Ibu serta seluruh keluarga besar H Subagyo, merayakan libur Idul Fitri.

Bukit Air Resto ini milik kawan Utami. Sebelum adik-adik hadir, kami menyempatkan diri berpose di balai pandang dengan tulisan Bukit Air sebagai latarnya. Keren juga, sepintas kayak di Bali, haha..

Cuma ya gitu deh, niatnya mau full team berlima tapi last minute Najah ada Kuis di kampusnya, jadi batal ikutan, hikz..

Ini di Bogor apa Bali?

Tak lama Ibnu dan Aya datang. Elok berhalangan hadir karena ada urusan dengan keluarganya dan Rafif, yang kuliah di Singapura. Wiwiek dan Barry pun menyusul, bersama Ezra. Fea katanya sedang ada urusan dengan kawan kuliahnya jadi tidak bisa hadir. Tak apa lah, mari foto-foto saja di sini, jepret!

Keluarga Besar Kresnadi, tak lengkap tetap asyik!

Di dalam gubug, Maryam sibuk menggambar dengan iPad om Ibennya sampai lupa makan. Tak apa, seorang yang kreatif kadang seperti itu, haha. Ini malah menguntungkan para fans, karena mereka bisa dengan mudah mengajak Maryam untuk foto sejenak, ya kan?

Maryam dan para fans ๐Ÿ™‚

Di meja sebelahnya, gank yang lebih gede duduk berjejeran. Sayang memang, kurang Fea, Najah dan Rafif. Tapi kesempatan langka ini, karena Aya yang kuliah di Yogya dan Ingga yang kuliah di Purwokerto, bisa hadir. Ezra lah yang mendapatkan momen ini, tanpa banyak disuruh, senyum manis pun mereka berikan. Uhuy!

Aya, Ingga dan Ezra

Tak terasa hampir 3 jam kami santap pagi siang di sini. Waktunya pulang, memberikan tempat untuk yang baru datang.

Terima kasih sudah bisa hadir jauh-jauh dari Bekasi dan Jakarta yaa, I love you all. See you again, soon!

See you again all!

Gowes Desember di Purwokerto

Di depan Alun-alun Purwokerto

Akhir pekan ini kami harus ke Purwokerto untuk menengok Bapak yang sedang sakit. Kami pergi hanya berdua, setelah Maryam si bungsu menolak untuk ikut. Duh.

Karena mobil kosong tanpa penumpang, kami pun membawa 2 sepeda lipat andalan untuk gowes di sana. Dibawalah Camp Hazy 5s dan Element Pikes Dragon. Let’s go!

Hari pertama, gw serahkan Utami untuk memilih rute perjalanan. Dia ingin ke tepi Sungai Serayu, melewati Gunung Tugel namanya. Wah, cukup menantang ini, banyak turun naiknya lho, tapi oke lah..

Belajar gowes tanjakan ini ๐Ÿ˜

Lumayan juga, naik turun ternyata Utami cukup kuat, hanya sekali TTB/Tuntun Bike karena memang cukup curam tanjakannya. Sebagai member anti tanjakan club, mari kita acungi jempol. Mantap!

Setelah melahap tanjakan-tanjakan, kami pun disuguhi pemandangan hamparan sawah yang memanjakan mata. Gak pakai lama, kami cari pematang sawah buat berpose, karena memang gowes itu harus pakai foto-foto kalau sama bini, Ya kan? ๐Ÿ˜†

Di pematang sawah Patikraja
Tuh cakep kan pemandangannya?

Puas berfoto-foto di tepi sawah, kami pun sampai di Sokawera, Patikraja. Saat melihat tanda petunjuk ‘Warung Desa’ di pinggir jalan membuat kami jadi pengen mampir, buat sarapan Kupat Tahu, yang cukup nikmat, alhamdulillah.

Di depan Warung Desa dengan Bu Mur

Tak dinyana ternyata pemilik warung adalah mantan ibu guru TK yang kenal dengan ibu mertua, yang dulu memang pangawas sekolah di kecamatan Patikraja. Kami pun berpose dengan beliau buat kenang-kenangan, jepret!

Dari situ, perjalanan kami stop karena harus balik lagi ke rumah di Karang Pucung walaupun baru 9.5 km saja gowesnya. Dan karena mengejar ‘masuk kantor’ hari itu, kami pun memilih pulang dengan naik taxi, wuuuussss..

Keeseokan harinya, gw yang ajak Utami untuk latihan menanjak lagi, Kali ini dalam kota aja, ke Utara, ke arah Grendeng tempat kampusnya Kakak Ingga, Universitas Jenderal Soedirman. Rute yang dipilih melewati Alun-Alun Kota Purwokerto (foto ada di atas tulisan ini), lanjut ke Utara melewati jalan Ahmad Yani hingga Pasar Cerme untuk kemudian belok kanan ke Jalan Riyanto.

Di jalan ini lah Utami melihat bakul Serabi, dan kami pun berhenti sebentar untuk membeli beberapa serabi untuk sarapan pagi.

Beli Serabi

Tak dinyana, di sini kami bertemu Bowo dan Cici, adik ipar yang juga suka bersepeda. Yowis, foto-foto dulu lah buat bukti ke ibu Mertua hihihi..

Ketemu cyclist Purwakerta ๐Ÿ™‚

Dari situ kami ke arah Selatan menuju Unsoed, menyusuri jalanan yang menurun di daerah Karangwangkal kemudian pulang. Total perjalanan pagi itu 17.55 km.

Sorenya, gw gowes lagi. Kali ini sama mbak Ingga yang males banget disuruh gerak. Awalnya hendak ngedrone aja di jalan tembus baru dari Jalan Sudirman ke jalan Gerilya. Tapi begitu melihat banyak orang yang bersepeda sore-sore, akhirnya kami balik sebentar ke rumah untuk ganti bersepeda di sore itu. Gak jauh-jauh lah, cuma 13 km aja.

Gowes bareng Mahasiswi ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah, selesai sudah cerita 3 hari di Purwokerto dengan bersepeda. Tetap pakai masker, hindari kerumunan dan menjaga jarak, in syaa Allah sehat selamat dari Covid 19, aamiin..

Gowes Seragam Baru Srengenge

Tim Srengenge di depan Roemah Oengoe

Baru dua pekan lalu dikumpulkan siapa-siapa saja yang hendak memesan jersey/seragam gowes klub para jelita lolita Srengenge, lha kok kemarin sudah jadi aja. Gw memesan 2 jersey langsung, motif Lurik dan juga Kembang-kembang.

Jersey yang sangat mbagusi!

Pagi itu sebenarnya gw udah pakai jersey Lurik, sebelum kemudian nyonya rumah bertanya ‘lho, kamu gak mau seragaman sama aku?‘ dengan tatapan penuh rasa heran. Yowis, tak gantine, ujarku dalam hati, daripada ada yang manyun sepanjang jalan.

Gowes pagi ini rutenya dari rumah bu Lurah di Bintaro menuju Warung Tuman di BSD pulang pergi namun dengan rute yang berbeda.

Rute Gowes pagi ini

Tercatat oleh Strava, jarak yang kami tempuh pagi itu 26.6 km dalam waktu….. 4 jam lebih ๐Ÿคช, benar-benar khas Srengenge, Sregep Ngepit, Sregep Ngemil ๐Ÿ˜

Sesampainya kami di Warung Tuman, pagi-pagi sudah ramai sekali. Semua pengunjungnya adalah goweser! Benar-benar bikin tuman ini warung, yang memang tempat ini sesuai banget untuk nongkrong sembari menikmati makanan di ruang terbuka, sehingga meminimalisir peredaran Covid 19.

Brunch di Warung Tuman
Tempat yang pas buat foto-foto juga nih
Kehabisan tempat, padahal bookingnya sudah sejak kemarin lho
Spot wajib buat foto keluarga di Warung Tuman

Dan sebelum kembali ke rumah bu Lurah, kami mencari ruang terbuka di sekitaran BSD untuk foto bareng-bareng dengan drone.

Mohon maaf kalau terlihat so childish ya padahal usia kami hampir/sudah 50-an tahun hahahah ๐Ÿคฉ

Gak terasa, hampir 5 jam kami gowes. Luar biasa, kalau sendirian pasti sudah malas tuh gowes lama-lama kayak gitu, tapi bareng kawan-kawan in syaa Allah semua terasa ringan.

Jadi, kamu pilih tim Lurik atau tim Kembang-kembang? ๐Ÿ˜

Dan jangan lupa, tonton juga videonya ya, sampai jumpa!